Pesan Dokter Ahli Ginjal: Memupuk Hidup Berkualitas Bersama Penyakit Ginjal
KPCDI – Bagi Ahli Nefrologi dr. Donnie Lumban Gaol, Sp.PD-KGH, peringatan World Kidney Day 2021 dengan tema ‘Living Well With Kidney Disease’ adalah sebuah motivasi bagi seluruh pasien penyakit ginjal di dunia. Sejalan dengan tema tersebut, para pasien yang menderita penyakit ginjal–khususnya di Indonesia–harus bisa hidup berkualitas dengan penyakit ginjal yang mereka miliki.
Memang, bagi kebanyakan orang terdiagnosis memiliki penyakit ginjal adalah akhir dari segalanya. Mereka seakan tidak lagi berguna atau bahkan hidupnya sudah tidak lagi dibutuhkan. Akan tetapi, bagi Donnie pikiran-pikiran tersebut haruslah disingkirkan. Sudah saatnya di tahun ini, para pasien move on dan melangkah ke depan.
“Berarti seorang pasien itu harus tahu apa yang menjadi tujuan hidup dia. Tujuan hidup dia adalah harus bisa berkualitas,” kata Donnie ketika berbincang dengan Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Senin (8/3).
Tujuan hidup itu, menurut Donnie bisa tergapai jika pasien penderita penyakit ginjal kronik mulai dari pasien tahap satu hingga pasien tahap lima mendapatkan akses pengobatan dengan baik. Juga, dibutuhkan dukungan penuh dari keluarga dan lingkungan sosial, agar pasien merasa tidak sendiri dalam berjuang.
Lalu bagaimana mewujudkan harapan di atas? Sudah tentu diperlukan fasilitas kesehatan yang merata di Indonesia. Sayangnya sejauh ini, menurut Donnie, pelayanan kesehatan bagi para pasien penderita penyakit ginjal di Indonesia belum merata. Sebuah tantangan yang harus segera diselesaikan oleh pemangku kebijakan di negeri ini.
Misalnya, dokter ahli nefrologi yang masih belum banyak jumlahnya di Indonesia serta akses pelayanan untuk ginjal yang masih terbatas.
Oleh karenanya, fasilitas kesehatan adalah jawaban sebagai harapan pasien dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Peningkatan pelayanan kesehatan yang berkualitas berimplikasi membuat kehidupan pasien meningkat. Jika dua hal tersebut bisa berjalan beriringan sudah pasti pasien akan merasa hidupnya lebih baik laiknya orang normal.
Pasien bisa kembali menjalani kehidupan seperti sedia kala. Juga mulai bisa menjalankan segala sesuatu hal yang ia sukai. Misalnya bepergian, berwisata, bahkan naik gunung. Pada tahap itu, pasien akan merasa bahwa penyakit ginjal bukanlah sebuah hambatan. Cita-cita yang selama ini sudah terkubur pelan tapi pasti kembali menggeliat ke atas permukaan.
“Pada awalnya gangguan penyesuaian itu memang ada. Tetapi pada saat dia sudah menjalaninya, pasti harapan pasien sama, bahwa dia mau menjadi seorang pasien yang juga sama (dengan orang normal) dari segi taraf kehidupan dan segi kesempatan,” ujarnya.
Living well, memiliki arti yakni sebagai pasien harus ikhlas menerima dan menjalani kehidupan berkualitas sebagai seseorang yang memiliki penyakit ginjal. Disisi lain, pasien tersebut juga memiliki kesempatan yang sama dengan pasien yang bukan dialisis.
Menurut Donnie meskipun mengidap penyakit ginjal, sangat besar harapan bagi pasien untuk hidup normal. Untuk itu, Donnie mengajak seluruh pasien bisa memahami penyakit ginjal tersebut. Sederhananya, ketika seseorang terdiagnosis mengidap penyakit ginjal maka dia harus tahu langkah yang akan ditempuh.
“Pasien harus paham saya sakitnya ini, saya harus begini, dan dia harus percaya diri bahwa dia bisa berkualitas itu paling penting,” urainya.
Terpenting, pada saat awal terdiagnosis pasien tidak boleh merasa depresi dan hilang arah. Ia harus mulai berusaha mencari pertolongan kepada teman, lingkungan sosial, keluarga dan tenaga kesehatan. Juga jangan pernah sendirian dan menanamkan dalam jiwa bahwa penyakit ini bukanlah akhir dari kehidupan.
Untuk itu, jika terdiagnosis memiliki penyakit ginjal, pasien harus segera mencari sumber terpercaya. Mulailah pergi ke fasilitas kesehatan yang terbaik bagi dirinya. Setelahnya bisa mencari informasi yang akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Atau bisa pergi ke komunitas para pasien penyakit ginjal agar mendapatkan dukungan yang berharga.
“Selalu berdiskusi dengan tenaga kesehatan Anda. dokter dan pasien bersama-sama berusaha untuk menurunkan progresifitas penyakitnya dengan berbagai upaya untuk pengobatan,” tegasnya.
Pun, pasien juga harus percaya penuh terhadap medis untuk penyakitnya. Jangan sampai sudah diberi pengetahuan atau informasi medis justru menolak dan menyepelekan. Jika hal itu dilakukan sudah pasti memiliki dampak buruk di kemudian hari. Ingatlah penyakit ginjal bukan penyakit main-main. Telat pengobatan, nyawa adalah taruhan.
“Dokternya akan menjelaskan kembali apa itu proses pemeliharaan ginjal secara sehat termasuk bagaimana pencegahannya serta menunda progresifitasnya jika fungsi ginjal menurun. Jika sudah cuci darah, itu sifatnya bukan untuk menyembuhkan akan tetapi untuk melanjutkan hidupnya dengan baik.,” tandasnya.
Kondisi di Indonesia
Berbicara kesehatan ginjal seluruh masyarakat Indonesia, dari perspektif angka dari tahun ke tahun menurut laporan data Indonesia Renal Registry (IRR) pasien menjalani dialsis memang selalu bertambah. Pada tahun 2017, jumlah pasien aktif melakukan hemodialisis adalah 77.892 dan pasien baru 30.831, tahun 2018 sebanyak 135.486 dan pasien baru 66.433, dan tahun 2019 tercatat naik menjadi 185.901 pasien aktif, sedangkan pasien baru menjadi 69.124. Jika dilihat per tahun, angka tersebut naik secara signifikan.
Menurut Donnie, semakin meningkatnya angka pasien penderita penyakit ginjal karena terkait gaya hidup dan juga tingkat awareness yang belum optimal dalam menjaga ginjal yang sehat. Peran edukasi dan deteksi dini di pelayanan kesehatan tingkat pertama juga menjadi poin krusial dalam menurunkan jumlah penderita penyakit ginjal tahap akhir.
Pun, bagi Donnie saat ini pemerintah sudah mulai menggaungkan kampanye agar deteksi penyakit penyebab penyakit ginjal bisa dilakukan sedini mungkin. Misalnya, bagi para pasien penderita diabetes dan hipertensi–dua penyakit penyumbang tertinggi pasien penyakit ginjal kronik–dari tahap awal sudah diharuskan memeriksakan kesehatan ginjalnya untuk deteksi dini.
“Supaya keadaan penyakit ginjal pasien itu bisa kita tunda progresifitasnya dan cegah agar tidak berkembang menjadi penyakit ginjal yang lebih berat atau tahap akhir” ujarnya. “Sisi preventif menjadi bagian yang harus diperjuangkan juga dalam melakukan deteksi dini”.
Deteksi dini tersebut juga bisa dimulai dari seseorang itu sendiri. Misalnya karena populasi pasien gagal ginjal dari penyakit diabetes dan hipertensi maka mereka yang sudah didiagnosis kedua penyakit tersebut harus memeriksakan kesehatan ginjalnya. Pasien penderita autoimun dan kencing batu juga harus melakukan hal serupa.
Kolaborasi
Momen peringatan hari ginjal sedunia tahun ini, bagi Donnie bisa dijadikan acuan bagi semua pihak untuk membuat seseorang pengidap penyakit ginjal tahap satu hingga tahap lima bisa merasakan bahwa dia bisa hidup dengan baik dan memiliki kesempatan dalam mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang sama disemua daerah. Segala stakeholders mulai dari pasien, komunitas pasien, Rumah Sakit, Pemerintah, sampai dokter dan perawat tujuan utamanya sama-sama mewujudkan semangat tersebut.
“Jadi kolaborasi itu menjadi penting karena informasi ini nggak perlu ditahan. Kita dokter tidak hanya bekerja secara kuratif atau pengobatan akan tetapi juga dari sisi pencegahannya” ujarnya
Kini, memperingati Hari Ginjal Sedunia Tahun 2021, sudah selaiknya para pasien memupuk harapan baru bahwa hidup berdampingan dengan penyakit ginjal bukanlah akhir dari segalanya. Mulailah beraktivitas laiknya orang normal. Hidup yang berkualitas adalah jawaban dari segala penderitaan yang selama ini dirasakan.
Disisi lain, pemerintah juga harus memberikan harapan bagi para pasien. Caranya sudah pasti dengan membangun jaringan fasilitas kesehatan yang mumpuni dimanapun di seluruh wilayah Indonesia. Dengan kolaborasi tersebut, sudah saatnya para pasien ginjal di Indonesia untuk bangkit dan menyongsong hari-hari penuh kualitas di depan. (ATR)