Memahami Terapi CAPD Agar Proses Dialisis Berkualitas
KPCDI – Seiring berkembangnya zaman, kini, para pasien gagal ginjal kronik bisa memilih jenis terapi apa yang mereka inginkan. Mulai dari hemodialisis (HD), continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD), atau transplantasi ginjal. Akan tetapi, dalam menentukan pilihan semuanya harus sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Ahli Nefrologi, dr. Donnie Lumban Gaol, SpPD-KGH menjelaskan pilihan terapi akan menentukan kualitas hidup bagi pasiennya. Salah satu pilihan yang mulai digunakan bagi pasien gagal ginjal kronik adalah terapi CAPD. CAPD dipilih karena bisa dilakukan sendiri dan lebih fleksibel dibandingkan dengan HD.
Menurut Donnie, ketika seorang pasien gagal ginjal kronik memilih terapi CAPD, dirinya harus bisa bertanggung jawab untuk pilihannya. Misalnya, ia harus berkomitmen penuh untuk menggantikan cairannya dengan rutin agar menghindari risiko infeksi yang cukup tinggi.
CAPD sendiri adalah proses cuci darah yang dilakukan melalui rongga perut. Metode ini memanfaatkan selaput dalam rongga perut yakni membran peritoneum yang memiliki permukaan luas dan banyak jaringan pembuluh darah sebagai filter alami ketika dilewati oleh zat sisa.
“Intinya berkesinambungan terus menerus, dia bergerak kemana-mana, aktif, tidak membutuhkan waktu ke rumah sakit. Dan prinsip dialisis bisa dijalankan dengan baik,” kata Dokter Donnie dalam webinar ‘Hidup Berkualitas Dengan Penyakit Ginjal’ yang diselenggarakan oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) Cabang Bogor bersama Fresenius Medical Care dalam rangkaian World Kidney Day 2021, Sabtu (13/3).

Sebelum memilih terapi CAPD, Donnie berpesan para pasien harus terlebih dahulu mengerti dampak risiko dan penggunaannya. Pun, pasien harus lebih dahulu dilatih agar pada saat melakukan proses pertukaran cairan tidak terjadi kesalahan. Perawat CAPD juga harus melakukan survei apakah rumah pasien layak melakukan CAPD mandiri.
Menurut Donnie, CAPD sebaiknya dilakukan di dalam ruangan yang bersih, bebas debu, cahaya yang baik, tidak ada binatang, dan nyaman. Pada saat melakukan CAPD juga sebaiknya mematikan kipas angin dan AC.
Jika perawat menyatakan rumah pasien mumpuni, maka tahap selanjutnya adalah pasien harus menjalani operasi pemasangan kateter ke dalam rongga perut. Kateter ini berguna sebagai akses keluar-masuk cairan dialisis untuk menarik zat-zat sisa metabolisme, mineral, elektrolit, dan air dari tubuh.
Jika dilihat, terapi CAPD memang lebih menguntungkan dibandingkan terapi HD. Misalnya, CAPD hanya membutuhkan waktu 30 menit dalam penggantian cairan dan relatif lebih ekonomis karena dapat dilakukan di rumah maupun tempat kerja. Fungsi ginjal yang masih sisa juga dapat dipertahankan lebih lama. Asupan cairan dan diet hanya sedikit dibatasi.
Karena dialisis dilakukan setiap hari, maka tubuh terasa lebih sehat dan nyaman. Dapat bekerja dan melakukan aktifitas layaknya orang normal. Sementara HD, perlu waktu jauh lebih lama yakni 4-5 jam di rumah sakit dan biaya lebih mahal karena tindakan dilakukan di RS. Fungsi ginjal yang tersisa juga lebih cepat menurun. Pembatasan asupan dan cairan lebih ketat dan diet juga harus diperhatikan. Dialisis tidak dilakukan setiap hari sehingga timbul gejala akibat tertimbun produk sisa dalam tubuh. Terikat dengan waktu untuk melakukan HD di rumah sakit yakni 2-3 kali seminggu.
“Keuntungan CAPD, peralatan sederhana tidak menggunakan mesin. Sebelum masuk ke peritoneal dialisis Anda harus latihan. Satu minggu sudah cukup untuk memahami CAPD dan cara menghubungkan atau melepaskan transfer set dari kantung cairan,” ujar Donnie.
Pun, dengan CAPD, pasien juga bisa lebih leluasa dalam menyantap makanan. Hal itu akan berdampak pada kesehatan karena makan lebih baik maka gizi dan kadar HB juga menjadi lebih baik. Jika ingin melakukan perjalanan, cairan CAPD tersedia di seluruh dunia. Dengan perencanaan dan perawatan yang baik pasien dapat melakukan perjalanan kemanapun.
Akan tetapi jangan terlena dengan CAPD. Bagaimanapun juga terapi ini memiliki faktor risiko seperti infeksi. Bila prosedur CAPD tidak dilakukan dengan baik dan benar maka risiko infeksi akan meningkat. Pasien harus melakukan pergantian cairan dengan baik, benar, dan hati-hati. Jangan sampai transfer set terkena tangan atau objek yang tidak steril dan karena terlalu percaya diri justru Anda bisa melakukan hal yang berbahaya.
“Waktu, satu kali penggantian cairan memerlukan sekitar 30 menit perhari. Jangan kurangi waktunya karena merasa sudah mahir. Butuh tempat untuk pertukaran cairan yang leluasa, bersih, bebas debu,” teganya.
Pun, pastikan di rumah memiliki tempat penyimpanan yang mumpuni. Biasanya cairan dikirim untuk sebulan sehingga perlu tempat untuk penyimpanan. Pasien juga harus berkomunikasi kepada pasangan jika sudah menikah. Kateter yang ada di perut bisa jadi mengganggu hubungan seksual. Oleh karenanya diskusikanlah dengan pasangan.
Adapun masalah minor yang sering dialami pasien CAPD adalah cenderung memudahkan terjadinya hernia, sakit pinggang, dan konstipasi (sembelit). Oleh karenanya, diperlukan pendamping pasien yang setiap memperhatikan kondisi pasien dalam proses perjalanannya.
Donnie berpesan, pastikan para pasien tetap bahagia, bisa produktif dimana saja, dan bepergian kemana saja. Dengan persiapan yang mata dan pengetahuan yang lapang maka proses dialisis akan berjalan dengan berkualitas.
“Pencegahan infeksi peritoneum. Mandi setiap hari, selalu cuci tangan, pakaian bersih, ruangan anda selalu bersih, periksa exit site setiap hari, cara penggantian sesuai anjuran, jangan menggunakan bedak tabur, krim, salep, jangan menggunakan ikat pinggang di atas exit site,” pungkasnya. (ATR)