Menilai Diri Sendiri Untuk Hidup Berkualitas di Tengah Terapi Hemodialisis
KPCDI – Ahli Penyakit Dalam Ginjal dan Hipertensi dr. Ardaya, SpPD-KGH kembali menyoroti tingginya angka penderita gagal ginjal kronik yang semakin tahun terus bertambah. Studi epidemiologi menunjukan 6-15% populasi di dunia rata-rata 600 juta orang menderita gagal ginjal kronik. Diperkirakan tahun 2030 angka tersebut akan terus bertambah menjadi 5,5 juta orang.
Sementara itu, data Indonesian Renal Registry (IRR) memperlihatkan bahwa sampai saat ini sebanyak 185.901 pasien gagal ginjal kronik masih aktif menjalani proses terapi hemodialisis. Dengan banyaknya angka tersebut diperlukan pemikiran positif dari seluruh pasien agar memiliki kualitas hidup yang lebih laik.
Bagi Ardaya, berbicara soal kualitas hidup tentu saja tidak bisa terbatas pada pasien-pasien yang menjalani proses hemodialisis saja tetapi harus menjadi topik pembicaraan bagi mereka yang saat ini masih diberikan kesehatan. Dan bagi yang sakit seperti pasien gagal ginjal kronik tentu penyakit tersebut haruslah dianggap sebuah keistimewaan.
Menurut Ardaya, selalu ada cara untuk memperbaiki kualitas hidup walaupun dalam keadaan sakit. Seperti diketahui, penyakit ginjal adalah penyakit dimana adanya gangguan pada fungsi ginjal dan terdapat tingkatan penyakitnya mulai dari stadium satu sampai stadium lima.
Bagi mereka yang telah memasuki ke tahap stadium lima atau terminal maka harus menjalani proses hemodialisis. Menurut Ardaya, kini di kota-kota besar tempat untuk melakukan proses hemodialisis sudah semakin banyak. Hal itu diharapkan sebagai bentuk sumbangsih dari para tenaga kesehatan kepada pasien.
“Agar mereka mendapatkan kualitas hidup yang baik walaupun menjalani proses hemodialisis,” kata Ardaya dalam webinar bertajuk ‘Hidup Berkualitas Dengan Penyakit Ginjal’ yang diselenggarakan oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) Cabang Bogor bersama Fresenius Medical Care dalam rangkaian acara World Kidney Day 2021 , Sabtu (13/3).

Ardaya menjelaskan, tujuan dari proses hemodialisis adalah mengurangi gejala daripada timbulnya racun-racun yang tidak bisa dikeluarkan oleh ginjal. Selain itu juga menghilangkan keluhan, mencegah komplikasi dari penyakit gagal ginjal kronik. Masalahnya, penyakit ini jika dibiarkan akan memberikan dampak komplikasi yang sangat menentukan bagi kehidupan pasien.
Tujuan terpenting adalah, bisa memperpanjang usia harapan hidup bagi pasien. Terkesan menyeramkan namun begitulah faktanya. Hemodialisis merupakan pertolongan kepada pasien gagal ginjal kronik yang harus diikuti oleh para pasien.
Menurut Ardaya, pasien gagal ginjal kronik yang menjalani proses hemodialisis memiliki kualitas hidup yang baik memiliki ciri-ciri perawakan hidup sehat, hidup laik, tidak ada gangguan fungsional, tidak memiliki keluhan terkait penyakitnya. Dan bisa melakukan aktifitas normal, tidak mengalami komplikasi pada penyakit gagal ginjal kronik dan proses hemodialisisnya.
Menurut Ardaya ada sebuah survei yang menunjukan bagaimana perbandingan antara pasien yang menjalani hemodialisis ataupun tidak menjalaninya. Terlihat harapan hidup daripada mereka yang menjalani proses hemodialisis bisa lebih berjuang dibandingkan mereka yang tidak menjalani proses hemodialisis.
“Kita tidak bisa ragukan lagi tindakan hemodialisis atau cuci darah itu memang memperpanjang harapan hidup daripada seseorang,” ujarnya.
Komponen Menilai Kualitas Hidup
Bagi para pasien penyakit gagal ginjal kronik tentunya harus memperhatikan beberapa komponen untuk bisa menilai kualitas hidupnya. Cara paling sederhana bagaimana orang memiliki kualitas hidup adalah dari segi kesehatannya, melihat fungsi tubuh secara keseluruhan, dan melihat faktor keadaan sosial dan ekonominya.
“Kita bisa bayangkan dengan penyakit gagal ginjal kronik yang dialisis itu tentunya kemampuan beraktivitas secara sosial dan ekonomi tidak sama dengan orang yang tidak menjalaninya,” ujarnya.
Bagi Ardaya komponen yang harus diperhatikan adalah status psikologis dan spiritualnya. Jika dirasa kurang tentunya yang bersangkutan harus memperbaikinya sendiri. Dalam proses membuat kualitas hidup yang baik, dukungan keluarga menjadi komponen utama agar pasien bisa survive.
“Dengan komponen tersebut harapan penderita tidak merasa dirinya berbeda dengan mereka yang dalam keadaan sehat,” imbuhnya.
Selain keluarga, kontribusi dari dokter dan perawat juga masuk menjadi salah satu komponen seorang pasien bisa hidup lebih berkualitas. Perawat hemodialisis sangat memiliki peranan kepada kualitas hidup pasien baik saat berkomunikasi, mendampingi, dan pengamatannya pada proses hemodialisis.
Pun, demi mewujudkan kualitas hidup itu dibutuhkan pendekatan secara menyeluruh kepada pasien. Di sisi lain pasien harus memiliki kemauan untuk hidup lebih baik. Ingatlah kecacatan bukanlah akhir dari segalanya. Mulailah cari dan tentukan kepuasaan hidup dari sekarang. Dengan begitu, akan muncul sebuah tujuan hidup yang harus dicapai.
“Secara sederhana, yang harus diperhatikan, kita jangan menempatkan seseorang atau pasien dengan hemodialisis itu kepada hidup saja tetapi bagaimana cara hidup yang baik. Ada banyak pasien yang sudah puluhan tahun, sudah berkeluarga, dan sekarang masuk ke usia lanjut tetap berjuang,” pungkasnya.
Intinya, untuk menciptakan kualitas hidup bagi pasien gagal ginjal kronik yang menjalani proses hemodialisis banyak sekali faktornya. Selain dari kondisi fisik, kondisi psikis, keluarga, perawat harus saling sinergi menciptakan pasien ginjal yang berkualitas. (ATR)