Cuci Darah Mandiri, Pilihan Logis Pasien Ginjal di Tengah Pandemi Covid-19
KPCDI – Pasien gagal ginjal kronik merupakan populasi yang paling rentan terpapar covid-19. Apalagi, orang yang mengalami penurunan fungsi ginjal tahap akhir biasanya mudah mengalami penurunan daya tahan tubuh karena berbagai kondisi seperti anemia dan kekurangan nutrisi.
Ahli ginjal dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, dr. Jonny mengatakan, pasien gagal ginjal mengalami penurunan imunitas, dan memiliki komorbid seperti diabetes, hipertensi hingga penyakit jantung. Penyakit komorbid ini mudah memicu gejala serius jika seseorang terpapar covid-19.
“Kita harus tahu bahwa gagal ginjal sendiri itu juga merupakan suatu penyakit yang dapat menurunkan daya tahan tubuh kita sehingga untuk terkena Covid-19 lebih besar kemungkinannya” kata Jonny dalam webinar yang digelar Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) dan di dukung oleh Fresenius Medical Care bertajuk ‘A New Normal: Life on Peritoneal Dialysis’.
Ia menjelaskan, mengurangi intensitas keluar rumah di masa pandemi untuk meminimalisir risiko terpapar covid-19 adalah langkah yang tepat. Karena itu, ia mendorong agar pasien gagal ginjal yang rutin melakukan hemodialisis di rumah sakit beralih ke terapi yang lain yaitu peritoneal dialisis atau CAPD.
Alasannya, pergerakan pasien di rumah sakit serta interaksinya dengan petugas medis dan sesama pasien meningkatkan potensi ia terpapar covid-19. Dan jika terinfeksi covid-19, penanganan pasien gagal ginjal akan lebih sulit daripada penanganan pasien pada umumnya. Pasien gagal ginjal yang terinfeksi virus memiliki tingkat mortalitas tinggi, dan dengan begitu, mereka memerlukan perawatan yang intensif.
“Apabila pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah terkena covid-19 maka gejala penyakitnya akan berat. Walaupun itu tidak spesifik, tapi akan berat dan memerlukan ICU di mana belum tentu di ICU-ICU di rumah sakit-rumah sakit itu ada pasokan air dialisat-nya untuk HD (hemodialisis).
“Sehingga peritoneal dialisis merupakan suatu pilihan yang lebih masuk akal. Tinggal di rumah itu lebih aman untuk pasien-pasien gagal ginjal,” imbuhnya.
Untuk diketahui, continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) adalah metode cuci darah yang dilakukan lewat perut. Proses ini memanfaatkan selaput dalam rongga perut yang memiliki banyak jaringan pembuluh darah sebagai filter alami pengganti ginjal, dalam menyaring zat sisa.
Cara kerja CAPD yaitu dengan menggunakan alat distribusi cairan dan saluran keluar-masuk cairan yang dipasangkan di rongga perut. Cairan dialisis yang mengandung air dan gula dimasukkan ke dalam rongga perut melalui alat tadi, yang akan bekerja menyerap zat sisa dan racun tubuh. Setelah 4-6 jam, cairan itu dikeluarkan kembali, sekaligus diganti dengan cairan yang baru.
Proses CAPD dilakukan setiap hari dengan intensitas empat kali sehari. Proses ini bisa dilakukan secara mandiri oleh pasien di rumah, namun tentunya dengan tetap dalam pengawasan medis. Prosedur CAPD mensyaratkan kebersihan pasien, baik terkait kebersihan diri sendiri maupun kebersihan rumah tempat ia menjalani prosedur CAPD. Hal ini penting untuk memastikan prosedur CAPD berjalan baik, dan tidak memicu risiko infeksi karena kuman atau penanganan yang kurang bersih.
Perbedaan besar antara metode hemodialisis menggunakan dialiser di rumah sakit dengan CAPD terletak pada intensitas pencucian zat sisa dalam darah. Jika hemodialisis dilakukan dua kali seminggu dengan durasi pencucian tiga hingga bahkan enam jam, maka CAPD dilakukan secara berkala setiap hari dengan durasi sekitar 30 menit.
Jonny menjelaskan, secara umum, semua pasien gagal ginjal bisa kapan saja beralih metode cuci darah dari hemodialisis ke CAPD, begitupun sebaliknya. Peralihan dari hemodialisis ke CAPD didahului dengan operasi pemasangan saluran masuk-keluar cairan di perut. Setelah itu, proses CAPD pun bisa dimulai.
“Semua pasien berhak CAPD. Hanya beberapa pasien mungkin punya kontra indikasi mutlak untuk dilakukan CAPD, misalnya pada pasien yang sudah operasi besar di perut, mungkin agak sulit. Tapi dengan teknologi sekarang, maka untuk pemasangannya mungkin bisa ditolong dengan laparoskopi,” kata dia.
Namun, dr. Jonny menggarisbawahi bahwa pasien harus benar-benar mempertimbangkan segala sesuatunya ketika memutuskan CAPD. Syarat utama untuk beralih dari hemodialisa adalah keyakinan hati si pasien, yang tak memilih CAPD karena ikut-ikutan atau terpaksa. Hal ini kaitannya dengan kemampuan pasien untuk bisa menjalani CAPD secara disiplin dan konsisten di kemudian hari.
Diketahui, meski CAPD relatif tidak berbahaya, namun masih memiliki risiko yaitu terjadinya infeksi karena masuknya kuman lewat kateter atau saluran masuk-keluar cairan yang dipasang di perut. Di sinilah pentingnya edukasi dari dokter pada saat setiap pasien akan memulai proses CAPD. (Ads)