Hati-Hati! Masalah Hipertensi dan Hipotensi pada Saat Menjalani Dialisis

KPCDI – Hipertensi adalah salah-satu penyebab sekaligus komplikasi penyerta penyakit ginjal kronis. Tekanan darah yang tinggi menyebabkan berkurangnya suplai darah ke ginjal, yang jika berkelanjutan akan menyebabkan kerusakan ginjal. Di sisi lainnya, ginjal yang rusak akan menyebabkan berbagai gangguan metabolisme yang berujung pada kondisi hipertensi.

Sebagian besar pasien gagal ginjal kronis yang menjalani terapi hemodialisis atau cuci darah mengalami hipertensi, atau secara medis disebut hipertensi intradialitik. Kondisi ini menjadi beban tambahan atau yang memperparah komplikasi pada pasien gagal ginjal, sehingga pasien lebih sulit mencapai kondisi tubuh stabil dengan terapi cuci darah.

Konsultan Ginjal dan Hipertensi RSUP Sanglah Denpasar, dr. Nyoman Paramita Ayu mengatakan, indikator hipertensi pada pasien cuci darah dilihat dari adanya peningkatan tekanan darah sistolik pasca dialisis yang lebih dari 10 mmHg. Atau, ketika tekanan darah pasien berada di atas 130/80 mmHg setelah cuci darah.

Ia menjelaskan, kondisi itu disebabkan adanya peningkatan kerja system renin angiotensin aldosterone (SRAA) dalam tubuh. Sistem tersebut berpengaruh terhadap kadar sodium dan air. Selain itu, adanya penumpukan racun uremik atau racun sisa metabolisme memicu terjadinya penyempitan pembuluh darah yang berujung pada hipertensi.

“Pada kondisi kesehatan yang normal, sistem ini (SRRA) kondisinya juga normal. Namun pada pasien gagal ginjal, dia terus-terusan bekerja meningkat. Jika itu terjadi, maka terjadi tahanan (penumpukan-red) sodium natrium, tahanan air, serta terjadi penyempitan pembuluh darah,” ungkap dr. Paramita dalam webinar ‘Penyebab Hipertensi dan Hipotensi pada Pasien Dialisis’ yang digelar Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) dan di dukung oleh Baxter, Minggu (27/6).

Dokter Paramita menjelaskan, selain adanya gangguan sodium dan masalah pembuluh darah, hipertensi juga ditandai dengan adanya gangguan mineral, di mana kadar kalsium dalam tubuh tinggi, kadar kalium rendah. Hal-hal tersebut bisa dikarenakan proses cuci darah yang tidak maksimal atau adekuat, atau sebagai dampak dari pemberian obat-obatan pengendali komplikasi lainnya pada pasien gagal ginjal.

Penanganan hipertensi pada pasien gagal ginjal biasanya dilakukan melalui kontrol asupan dan kontrol proses cuci darah. Pasien gagal ginjal dengan hipertensi disarankan untuk mengurangi asupan cairan, garam, mengontrol berat badan kering, serta rutin mengkonsumsi obat anti hipertensi. Bersamaan, melalui proses cuci darah, dokter juga akan melakukan intervensi untuk menurunkan kadar natrium pasien.

Hipertensi intradialitik harus segera ditangani, karena bisa sangat berbahaya bagi pasien gagal ginjal. Kondisi hipertensi yang parah akan selain bisa memicu masalah jantung hingga disfungsi seksual, juga berdampak pada dihentikannya proses cuci darah pada pasien gagal ginjal.

“Hentikan HD bila tekanan darah tinggi dan tidak terkendali. Jadi kalau darahnya tinggi, sampai 200 misalnya, dan ada gejala klinis seperti pusing, atau bahkan kejang, ya stop HD-nya. Pasien harus dirawat sebagai suatu krisis hipertensi,” kata dr. Paramita.

Lebih lanjut, dr. Paramita mengingatkan, meski hipertensi adalah komplikasi umum pada pasien gagal ginjal, namun pasien juga tidak boleh mengabaikan kemungkinan komplikasi lainnya, yaitu hipotensi. Ini adalah kondisi kebalikan dari hipertensi, yaitu tekanan darah yang rendah, atau penurunan tekanan darah lebih dari 20 mmHg pada setiap proses cuci darah.

“Komplikasi dialisis dapat berupa hipertensi dan hipotensi. Apabila tidak ditangani dengan baik, hiper dan hipotensi selama dialisis dapat menyebabkan meningkatnya angka kesakitan dan kematian,” katanya.

Hipotensi pada pasien gagal ginjal umumnya menimbulkan gejala berupa kram, lemas serta mata berkunang-kunang. Gejala tersebut adalah pertanda dari banyak hal yang merupakan penyebab hipotensi, seperti penyakit jantung, irama jantung tidak stabil, serta anemia.

Hipotensi juga dapat disebabkan penggunaan obat antichipertensi yang kurang terkontrol, atau adanya kenaikan berat badan kering pasien yang tidak terdeteksi. Selain itu, proses cuci darah yang tidak adekuat juga bisa menjadi penyebab komplikasi hipotensi.

Penanganan hipotensi sama halnya dengan hipertensi. Selain kontrol asupan dan konsumsi obat-obatan oleh pasien, juga ditangani melalui proses cuci darah. Dalam proses ini, dokter akan mengatur menerapkan intervensi spesifik, misalnya pengaturan komposisi cairan cuci darah, kontrol natrium, hingga pengaturan durasi dialisis untuk mencapai efek yang optimal. (Ads)

 

Leave a Reply