Seputar Transplantasi Ginjal: Prosedur hingga Risikonya
KPCDI – Transplantasi ginjal adalah pilihan terbaik terapi pengganti ginjal pada pasien penderita penyakit ginjal stadium akhir atau gagal ginjal. Transplantasi ginjal akan memberikan manfaat sangat besar bagi pasien gagal ginjal. Seperti membaiknya kualitas hidup, kesehatan tubuh meningkat serta memiliki harapan hidup yang lebih lama.
Selain itu, pasien transplantasi ginjal juga memiliki aturan diet yang lebih bebas dibandingkan pasien yang masih menjalani terapi cuci darah atau dialisis (HD/CAPD). Sebabnya, tubuh sudah kembali mendapatkan fungsi ginjal yang optimal dalam memproses sisa metabolisme.
Namun, tidak mudah untuk mendapatkan transplantasi bagi pasien gagal ginjal. Terutama yaitu karena masih sulitnya untuk mendapatkan donor. Selain itu, tidak mudah juga bagi pasien mendapatkan donor yang sesuai, ataupun ketatnya prosedur yang harus dilewati untuk seseorang bisa menjadi pendonor.
Wakil Ketua Tim Transplantasi Ginjal RSCM Jakarta, dr. Maruhum Bonar Hasiholan Marbun menjelaskan, seseorang harus memiliki kecocokan darah dengan calon penerima donor. Selain itu, ada sejumlah syarat administrasi yang harus dipenuhi pendonor terkait kelayakan dilakukannya proses tersebut.
Selain itu, yang tak kalah penting, adalah pendonor harus benar-benar dalam keadaan sehat, serta mendonorkan ginjal secara ikhlas lahir dan batin.
“Misalnya yang paling sering kita hadapi bukan hanya soal golongan darah, contoh misalnya calon donor memiliki hipertensi. Itu hipertensi harus terkontrol dulu baru bisa donor,” ungkap dr. Bonar dalam webinar bertajuk ‘Transplantasi Ginjal: Prosedur, Perawatan dan Risiko’ yang digelar Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) dan di dukung oleh Astellas Pharma Indonesia, Sabtu (10/7).
Selain itu, seorang pendonor haruslah terbukti secara medis bebas dari riwayat penyakit diabetes, batu ginjal, penyakit menular, kanker hingga penyakit jantung. Kriteria tersebut harus dipenuhi sebelum seseorang dinyatakan layak mendonorkan ginjalnya.
“Prinsipnya yang paling utama adalah sehat walafiat. Jadi dia kalau memberikan organ dia tetap sehat. Kedua adalah kerelaan, ini sudah bukan ranah medis,” ucapnya.
Ketika donor sudah tersedia, maka barulah proses transplantasi dilakukan oleh dokter. Proses operasi transplantasi ginjal terlebih dahulu akan diawali dengan pemeriksaan menyeluruh terhadap pasien. Hal ini untuk memastikan bahwa tubuh pasien dalam kondisi siap menjalani transplantasi ginjal.
Bonar menjelaskan, meski transplantasi ginjal adalah pilihan terbaik bagi pasien gagal ginjal, bukan berarti cara satu ini tidak memiliki aspek resiko. Ada risiko yang harus yang mengikuti setelah dilakukannya transplantasi. Beberapa risiko yang mungkin terjadi seperti rejeksi hingga infeksi.
Rejeksi adalah kondisi ketika tubuh menolak sesuatu yang asing masuk ke dalam sistemnya. Ini adalah respon alamiah sistem imun untuk menjaga tubuh dari segala yang asing dari luar tubuh. Untuk hal ini, dokter biasanya memberikan obat spesifik untuk menghentikan rejeksi, sehingga tidak merusak organ ginjal yang baru ditransplantasi.
“Oleh karena itu, diperlukan obat anti-rejeksi (immunosupresan) untuk mencegah kerusakan ginjal baru,” katanya.
Sementara infeksi yaitu komplikasi akibat serangan bakteri atau virus, baik karena operasi maupun setelahnya. Gejala infeksi ini bisanya ditandai dengan gejala nyeri saat berkemih, urin terlihat kemerahan karena bercampur darah atau pun urin berwarna keruh.
“70 persen pasien transplantasi akan mengalami episode infeksi dalam tiga tahun pertama. Lingkungan kita daerah tropis, jadi bakteri maupun virus banyak di sekitar itu yang harus diantisipasi,” kata dr. Bonar.
Karena itu, ia menekankan pentingnya bagi resipien atau penerima transplantasi untuk selalu berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gejala infeksi. Selain itu, resipien juga harus melakukan upaya pencegahan seperti dengan menghindari kontak dengan pengidap penyakit menular, menjaga kebersihan, serta melakukan vaksinasi pasca transplantasi.
Selain itu, dokter juga akan menyusun rencana kontrol atau evaluasi bagi pasien secara rutin. Biasanya, dalam setahun pasca transplantasi, resipien akan menjalani pemeriksaan secara berkala untuk mengevaluasi perkembangan kondisi metabolismenya, mencakup kadar kreatinin dalam tubuh, protein, pemeriksaan darah serta aspek terkait lainnya. (Ads)