Bagaimana Pencegahan Infeksi pada Pasien CAPD?
KPCDI – Dialisis Peritoneal atau CAPD adalah proses dialisis melalui membran di dalam perut, untuk menampung dan membuang cairan sisa metabolisme tubuh. Ini menjadi alternatif terapi pengganti ginjal selain prosedur hemodialisis atau HD.
Terapi CAPD dianggap memiliki sejumlah kelebihan yang tidak dimiliki pada terapi HD. Terutama dalam hal keleluasaan pasien. Pasien CAPD bisa melakukan cuci darah secara mandiri di rumahnya tanpa harus ke rumah sakit. Selain itu, pola diet pada pasien CAPD pun bisa lebih longgar dibandingkan pasien HD.
Meski begitu, prosedur CAPD tetap memiliki sejumlah masalah dan risiko bagi pasien gagal ginjal. Risiko itu mulai dari penambahan berat badan hingga infeksi pada di sekitar saluran exit site, yaitu tempat keluar masuknya cairan dialisis pada prosedur CAPD.
Kepala Instalasi Dialisis RSUDZA Banda Aceh, dr. Abdullah menjelaskan, infeksi merupakan salah-satu komplikasi yang paling serius pada pasien CAPD. Masalah ini bisa menjadi kronis dan berujung pada penghentian proses CAPD.
“Walaupun banyak keuntungan, juga ada kekurangan pada CAPD. Resiko infeksi, ini biasanya yang paling ditakutkan,” ungkap dr. Abdullah dalam webinar bertajuk ‘Tips Mengatasi Permasalahan Teknis CAPD’ yang digelar Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI).
Ia menjelaskan, ada banyak hal yang bisa menyebabkan terjadinya infeksi pada saluran exit site atau kateter yang dipasang di rongga perut. Pertama-tama adalah karena ketidak hati-hatian pasien dalam menjalankan prosedur cuci darah mandiri, atau kurangnya disiplin kebersihan sehingga menyebabkan kateter atau area di sekitarnya terpapar bakteri.
Selain itu, infeksi juga bisa disebabkan terjadinya sumbatan darah pada saluran kateter, infeksi jamur, ataupun pergeseran posisi kateter akibat aktivitas pasien, sehingga menyebabkan luka pada bagian tersebut. Serta, infeksi juga bisa terjadi di dalam rongga perut, yaitu pada membran peritoneal (rongga penampung cairan sisa metabolisme) akibat masuknya bakteri melalui saluran kateter.
Karena itulah, dr. Abdullah menekankan pentingnya bagi setiap pasien CAPD untuk selalu melakukan disiplin kebersihan yang baik serta menghindari sebab-sebab terjadinya infeksi.
“Misalnya pasien menggaruk bagian sekitar exit site, adanya hentakan, berendam di air terlalu lama, atau tidak memperhatikan iritasi oleh pakaian. Selain itu juga misalnya pasien jangan tidur telungkup atau miring, yang bisa menekan exit site terlalu lama,” paparnya.
Penyebab infeksi yang lainnya termasuk paparan debu saat pasien melakukan prosedur cuci darah di rumah, exit site terkena bedak atau salep obat bebas, hingga konsumsi alkohol.
Untuk menghindari semua itu, kata dr. Abdullah, pasien harus menerapkan protokol kebersihan dan disiplin yang ketat dalam setiap menjalani cuci darah. Misalnya rutin membersihkan exit site, menggunakan pembersih antibakteri, selalu mencuci tangan, dan selalu memperhatikan kebersihan ruangan tempat melakukan cuci darah.
“Semua harus dibersihkan dan sanitasi higenitasnya harus benar-benar terjaga. Sehingga menghindari infeksi yang bisa menyebabkan kateter dicabut,” ujarnya.
Di samping itu, pasien harus selalu memantau keadaan di sekitar area kateter. Jika menemukan adanya luka, atau merasakan nyeri yang konsisten di sekitar bagian tersebut, maka sebaiknya langsung berkonsultasi dengan dokter.
Abdullah menambahkan, meskipun bisa melakukan CAPD secara mandiri, pasien penderita gagal ginjal masih perlu datang ke rumah sakit untuk berkonsultasi dengan dokter, umumnya satu kali setiap bulannya. Selain untuk memeriksakan kondisi saluran exit site dan memeriksa gejala-gejala infeksi, hal ini juga diperlukan untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan cuci darah secara CAPD pada si pasien.
Keberhasilan CAPD itu umumnya dilihat berdasarkan evaluasi ada tidaknya penyakit penyerta pada pasien, evaluasi anemia, tekanan darah, uremia, evaluasi keseimbangan cairan elektrolit dan asam basa, hingga evaluasi penggunaan obat-obatan. (Ads)