Komplikasi Akses Dialisis dan Penanganannya
KPCDI – Akses Cimino atau AV Fistula adalah akses permanen yang sangat penting yang digunakan oleh pasien gagal ginjal dengan terapi hemodialisis. Pembuatan akses cimino untuk kebutuhan hemodialisis dilakukan dengan pembedahan, modifikasi pembuluh darah atau penanaman alat ke dalam kulit pasien.
Karena itu, prosedur ini memiliki potensi komplikasi infeksi pada pasien. Menurut Dokter Spesialis Bedah Vaskuler dr. Akhmadu, Sp.B, Sub.BVE(K), PhD, ada dua jenis komplikasi yang biasa terjadi pada kateter AV Fistula yaitu komplikasi akut dan komplikasi kronis.
Komplikasi yang pertama ialah terjadinya pendarahan dan semua prosedur pembedahan tentu memiliki risiko tersebut. Untuk meminimalisir komplikasi tersebut sebelum melakukan pembedahan bisa dilakukan tes darah untuk memastikan bahwa BT/CT (waktu pembekuan darah dan waktu perdarahan) normal. Jika didapatkan kelainan atau pembekuan, prosedur dapat ditunda untuk memperbaiki kondisi.
Selain itu juga ada komplikasi pneumotoraks. Meskipun sangat jarang hal ini dapat terjadi selama kateter melalui vena di dada atau leher. Untuk mengurangi risiko sebelum melakukan proses pembedahan perlu dilakukan USG atau fluoroskopi. Dan jika dicurigai adanya pneumotoraks perlu dilakukan foto toraks dan pemasangan chest tube.
Ada pula gangguan irama jantung dimana ritme normal dapat terganggu ketika kateter dimasukan. Masalah ini akan dikenali dengan mudah selama prosedur dan dapat diatasi dengan mengatur posisi kateter atau mencabut kateter dan memasangnya kembali disisi berlawanan.
“Ada juga kerusakan vaskuler (perfosi, difeksi), soft tissur dan syaraf, emboli udara, perubahan posisi kateter, kerusakan ductus, toraksikus, komplikasi jantung (iritasi jantung atau perforasi),” kata dr. Akhmadu dalam webinar yang digelar oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) bersama Boston Scientific.
Sementara itu komplikasi selanjutnya ialah komplikasi kronis. Penelitian retrospektif oleh Yildizeli menjelaskan dari 225 implantasi kateter dan port system didapatkan komplikasi jangka panjang 6,6% kasus dengan rincian infeksi 2,2%, thrombosis 1.3%, ekstravasasi 1,3% dan catheter fracture 1,8%.
Contoh komplikasi kronis seperti infeksi dapat timbul di tempat insisi atau masuknya kateter, risiko lebih rendah bila teknik aseptik dan antisepsis diterapkan dengan baik. Tidak direkomendasikan untuk secara rutin mencabut akses yang terinfeksi serta antibiotik dapat diberikan secara empiris bila sudah didapat hasil kultur dan dapat diberikan antibiotik yang sesuai.
“Sistem akses vaskuler harus dicabut bila terjadi sepsis atau gangguan organ lain, ada nanah juga harus dicabut,” ujarnya.
Selain itu juga bisa terjadi kebocoran kateter yang menyebabkan kebocoran cairan. Sehingga klem yang berwarna merah dan biru sebisa mungkin jangan ditempat yang sama dan jangan terlalu kuat dalam flushing. Ada pula perubahan posisi dapat terjadi jika ada kelainan anatomi misalnya tumor di paru.
Ada juga masuknya udara ke kateter merupakan kasus emergency dapat menyebabkan nyeri dada atau sesak napas. Dapat dicegah dengan mengklem kateter sebelum dan setelah memasang spuit. Pastikan bahwa penutup kateter selalu terpasang baik.
Perawatan AV Fistula
Melihat adanya kemungkinan komplikasi pada AV Fistula, dr. Akhmadu menjelaskan bagi pasien sebaiknya menghindari adanya trauma pada fistula seperti tertekan. Hal tersebut dapat membuat aliran tidak stabil. Selain itu usahakan pada saat pengambilan darah jangan dari lengan yang terpasang fistula.
Pasien juga tidak diperkenankan mengangkat beban yang berat atau mengikat pada lengan yang ada fistula seperti mengangkat koper atau memakai gelang yang ketat. Sebaiknya AV Fistula hanya digunakan untuk hemodialisis saja.
Sebelum itu pada proses awal pembuatan fistula pastikan aliran ini sudah siap dan matang. Untuk mengetahui hal tersebut bisa dilakukan dengan pemeriksaan fisik seperti melihat, mendengar, dan meraba. Setelah 4-6 minggu pasca pembuatan fistula pasien bisa datang ke dokter bedah untuk melakukan evaluasi.
Pun ketika melakukan pemeliharaan AV Fistula pasien harus memastikan kanulasi AV Graft dilakukan dengan sistem rotasi dan tidak dilakukan di tempat yang sama secara berurutan. Juga melakukan kontrol infeksi dengan pemeriksaan exit site sebelum melakukan penyambungan kateter ke mesin, mengganti perban setiap cuci darah, menggunakan teknik asepsis (masker, sarung tangan) dari awal sampai selesai dan pelepasan kateter dari mesin.
“Dokumentasi pada saat hemodialisis sangat penting untuk menganalisis kemungkinan terjadinya stenosis atau thrombosis atau komplikasi. Setidaknya 1 bulan 1 kali harus dilakukan pemeriksaan fisik terhadap akses yang telah dibuat untuk mendeteksi dan mencegah terjadinya komplikasi,” tutupnya. (ATR)