Setelah 3 Tahun Pandemi, KPCDI Kembali Gelar Seminar Dialisis Tatap Muka
KPCDI – Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) kembali menggelar Seminar Awam Dialisis secara tatap muka untuk pasien ginjal kronik yang berada di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi. Kegiatan ini merupakan kali pertama seminar dilakukan offline sejak pandemi covid-19 melanda Indonesia pada tahun 2020 lalu.
Ketua KPCDI Tony Richard Samosir menjelaskan sejak pandemi covid-19 melanda Indonesia dan membuat seluruh kegiatan menjadi terbatas, KPCDI hanya bisa melakukan seminar awam secara virtual melalui layanan aplikasi Zoom. Diharapkan, dengan seminar tatap muka, edukasi yang diberikan oleh dokter ahli dapat dicerna lebih baik oleh para pasien.
“Hari ini kita berkumpul sebagai pasien. Melalui seminar ini saya harapkan kita bisa menggali informasi dari narasumber langsung bertatap muka, apalagi temanya sangat menarik untuk kepentingan pasien itu sendiri,” kata Tony di CEO Building, TB Simatupang, Jakarta Selatan, Minggu (28/5).
Pada seminar awam dialisis yang dihadiri sekitar 160 orang kali ini terdapat dua tema yang menjadi bahan diskusi yaitu ‘Pentingnya Pengaturan Nutrisi pada Pasien Ginjal Kronik’ yang dipaparkan oleh Divisi Ginjal Hipertensi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM dr. Ni Made Hustrini, Sp.PD-KGH dan tema ‘Hemodialisis atau CAPD: Pilihan Mana yang Tepat Untuk Saya?’ yang dipaparkan oleh dr. Mirna Nurasri Praptini, Sp,PD-KGH., M.Epid., FINASIM.
Dalam paparannya Dokter Ni Made menjelaskan bahwa pasien ginjal kronik di Indonesia memiliki pilihan terapi pengganti ginjal selain hemodialisis yaitu Continuous Ambulatory Peritonel Dialysis (CAPD). Tentunya berdasarkan pelbagai penelitian, CAPD merupakan terapi yang bisa memberikan dampak kualitas hidup pasien lebih baik jika dibandingkan oleh Hemodialisis.
Sementara itu, Dokter Ni Made menjelaskan pasien ginjal kronik harus menerapkan diet dan menjaga pola nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Diet nutrisi menjadi penting dilakukan karena fungsi ginjal yang sudah menurun tidak lagi mampu bekerja secara optimal untuk menyaring racun dan cairan di dalam tubuh.
Pada kesempatan ini, para pasien juga tampak antusias mengikuti jalannya acara. Hal itu ditunjukkan melalui pertanyaan-pertanyaan kepada kedua narasumber selama acara berlangsung. Selain diskusi panel, peserta juga dihibur dengan beberapa kegiatan seperti pembagian doorprize, games, dan senam ringan bersama.
Tentunya, Tony berharap seminar awam ini ke depan akan terus dilakukan oleh KPCDI untuk memberikan edukasi kepada para pasien dan memperkuat persaudaraan diantara sesama pasien. Tidak lupa, KPCDI turut mengucapkan terima kasih kepada mitra kerja yang sudah mendukung kegiatan ini. Ucapan terima kasih tersebut disampaikan kepada Baxter, Fresenius Kabi Indonesia, Prodia, dan KlikQu.com.