Pentingnya Pengaturan Nutrisi pada Pasien Ginjal Kronik
KPCDI – Seseorang yang telah dinyatakan menderita penyakit ginjal kronik tentunya harus melakukan serangkaian langkah untuk menjaga sisa fungsi ginjalnya bekerja dengan optimal. Salah dua hal yang harus dilakukan adalah melakukan terapi pengganti ginjal plus dibarengi dengan melakukan diet nutrisi untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Divisi Ginjal Hipertensi-Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, dr. Ni Made Hustrini, Sp.PD-KGH menjelaskan pola pikir pasien ginjal kronik dalam menerapkan diet nutrisi sudah menjadi hal wajib tanpa bisa ditawar. Individu yang memiliki pola diet sehat memiliki risiko perburukan fungsi ginjal dan kematian lebih rendah.
“Jika mampu mengubah diet menjadi lebih sehat, maka risiko perburukan fungsi ginjal dan kematian menurun dalam 5,5 tahun,” kata dr. Ni Made dalam Seminar Awam Dialisis yang diselenggarakan oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia di CEO Building, TB Simatupang, Jakarta Selatan, Minggu (28/5).
Dihadapan ratusan peserta seminar, dr. Ni Made menjelaskan tren seseorang untuk makan terus mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Sebagaimana sebelum tahun 1800 masehi, orang lebih banyak memakan makanan yang banyak mengandung serat dan sayuran. Kebalikannya, saat ini, orang justru lebih gemar mengkonsumsi makanan manis, minyak, dan garam yang memicu pola penyakit.
Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah yang cukup serius jika laju pasien ginjal kronik di Indonesia mau ditekan. Diet rendah protein dan rendah garam seyogianya akan menghambat perburukan fungsi ginjal. Cara kerjanya, jika seseorang memakan sedikit garam dan protein, maka ginjal tidak akan bekerja lebih keras.
“Kalau makan protein terus menerus sehari tiga kali dan berulang selama satu minggu fungsi ginjal akan lebih cepat menurun. Healthy lifestyle selalu jadi dasar pengobatan pasien,” ujarnya.
Berdasarkan data Kidney Disease Outcomes Quality Intiative (KDOQI) Clinical Practice Guideline for Nutrition In CKD: 2020 rumus yang bisa dilakukan adalah bagi PGK stadium 3-5 tanpa dialisis dan tanpa diabetes militus maka diet rendah protein: 0,55-0,6 g/kg/hari dan diet sangat rendah protein: 0,28-0,43 g/kg/hari + suplemen keto-acid. Sementara itu bagi PGK tanpa dialisis dan dengan diabetes melitus diet rendah protein sebesar 0,6-0,8 g/kg/hari.
Pun, pasien diet nutrisi ini memang mengharuskan pasien untuk menghindari makanan kemasan berpengawet dan beku, rendah garam, kurangi asupan kalium dan fosfor, kurangi protein, dan mengurangi cairan pada PGK lanjut.
Sebagai petunjuk jumlah makanan yang bisa dimakan adalah dengan rumus dalam satu piring berisikan protein 70 gram, iron 20 mg, total fat 20 mg, calcium 800 mg, sodium 1000 mg, karbohidrat 335 mg. Pastikan pasien juga menghindari jenis makanan tinggi kalium seperti pisang, melon, tomat, alpukat, kentang goreng, dan lainnya.
“Selain kalium, pasien juga harus menghindari makanan tinggi fosfat seperti tahu, daging, kerang simping, udang rebon, tepung susu, teri segar, dan dada ayam,” ujarnya.
Pada intinya asupan makanan dapat mempengaruhi kejadian dan perjalanan penyakit ginjal pasien. Pola diet bagi pasien PGK non-dialisis dan dialisis tentunya berbeda sehingga diperlukan komunikasi dengan dokter penanggung jawab.
Terakhir, acara ini terselenggara dengan bekerjasama oleh para mitra KPCDI seperti Fresenius Kabi Indonesia, Baxter, Prodia, dan KlikQu.com. (Dwi)