Gagal Ginjal Bukan Akhir Hidup, Penting untuk Tetap Aktif dan Produktif

KPCDI – Hingga saat ini penyakit ginjal kronik masih menjadi salah satu momok penyakit paling mematikan karena belum bisa diobati. Penderitanya harus tergantung kepada prosedur cuci darah atau dialisis untuk menggantikan fungsi ginjal yang sudah kadung rusak.

Meski begitu, bukan berarti gagal ginjal adalah akhir dari kehidupan. Pasalnya, dengan menjalani prosedur dialisis, seseorang bisa mendapatkan kembali sebagian besar kualitas kesehatannya yang normal. Karena itu, ia pun semestinya bisa melanjutkan hidup yang juga berkualitas dan normal.

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang memandang kondisi gagal ginjal sebagai akhir dari kehidupan yang aktif dan produktif. Alih-alih melanjutkan hidup, banyak yang berlarut-larut dalam perasaan putus asa, sehingga enggan melangkah maju lagi.

Ketua Indonesia Renal Registry (IRR) sekaligus Kepala instalasi Hemodialisis RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, dr. Afiatin mengatakan banyak pasien yang mengalami depresi ketika dinyatakan gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah.

Alasannya umum, yaitu kehidupan penderita gagal ginjal tergantung kepada mesin, dan tak ada waktu untuk memikirkan hal lain selain rutinitas perawatan dialisis.

“Contoh yang paling sering, saat dinyatakan gagal ginjal, mereka berpikir, ‘wah saya harus cuci darah, nggak bisa kemana-mana,” ungkap dr. Afiatin dalam webinar Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) bertajuk ‘Bagaimana agar Tetap Aktif dan Produktif dengan Dialisis’.

Ia menjelaskan, kehidupan penyintas gagal ginjal memang sedikit-banyaknya akan berbeda dengan orang-orang lainnya. Selain tergantung dengan mesin dialisis, si pasien juga rentan mengalami berbagai masalah kesehatan lainnya yang dipicu rusaknya fungsi ginjal, mulai dari anemia, kelelahan, dan menurunnya daya tahan tubuh.

Namun, pasien bisa tetap hidup dengan sedikit beradaptasi dengan kenormalan yang baru tersebut. Prosedur cuci darah berfungsi untuk menggantikan fungsi ginjal, agar sistem di dalam tubuh si pasien tetap bekerja optimal. Dengan kata lain, prosedur ini berfungsi mengembalikan kualitas hidup pasien.

“Kehidupan Anda memang berubah, tapi tetaplah semangat dan bahagia. Pelajari penyakit ginjal ini dan cari info dari yang kompeten. Beraktifitaslah seperti biasa, yang menjadi ibu rumah tangga, teruslah menjadi ibu rumah tangga, yang mengajar juga teruslah mengajar,” katanya.

Pasien gagal ginjal, baik yang menjalani terapi hemodialisa (HD) maupun continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD), sama-sama memiliki kesempatan untuk hidup aktif dan produktif. Kuncinya adalah semangat setiap pasien untuk melakukannya. Termasuk, dalam menjalankan semua prosedur perawatan dengan riang gembira.

“Contoh, jangan bolos HD. Karena HD itu jamnya setiap pasien sudah dikasih resep dokternya. Sudah ada kajiannya, bahwa kalau Anda bolos HD, outcome-nya jelek,” katanya.

Afiatin menjelaskan, ada dua jenis terapi gagal ginjal yang bisa dipilih pasien berdasarkan kebutuhannya, yaitu HD dan CAPD. Keduanya sama-sama bisa menopang kelanjutan hidup pasien gagal ginjal, dan memungkinkan mereka tetap menjalani aktivitas dengan sedikit penyesuaian baru terkait jadwal perawatan atau terapi.

Lebih lagi pada pasien dengan terapi CAPD yang tidak perlu ke rumah sakit untuk cuci darah, maka pergerakannya pun jadi lebih leluasa lagi. Ia bisa tetap bekerja di kantornya, berolahraga, bersepeda hingga melakukan hal-hal produktif lainnya.

Spesifik terkait kehidupan seksual, dr. Afiatin pun menegaskan bahwa tak ada halangan bagi pasien gagal ginjal untuk tetap melakukan aktivitas itu bersama pasangannya. Katanya, banyak pasien gagal ginjal di belahan dunia yang melahirkan dua hingga tiga orang anak dalam kondisi menjalani terapi dialisis.

“Jadi, Anda dengan dialisis harus menyikapinya sebagai usaha Anda bertahan hidup, sebagai ibadah, maka tidak ada alasan untuk anda untuk meratapi kehidupan ini,” tandasnya. (Ads)

Leave a Reply