Memahami Seputar Risiko Peritonitis pada Pasien CAPD

KPCDI – Peritonitis adalah suatu kondisi peradangan pada lapisan membran peritoneum yang melapisi rongga perut. Kondisi ini terjadi karena adanya infeksi yang disebabkan bakteri atau jamur pada lapisan tersebut, yang bisa merusak fungsi lapisan tersebut, bahkan bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Sebab terjadinya peritonitis ini bermacam-macam. Bisa karena infeksi yang dipicu dari bakteri dari luar tubuh, misalnya bakteri masuk lewat bukaan luka kulit di dekat peritoneum. Atau bisa juga karena bakteri dari dalam saluran pencernaan yang masuk ke peritoneum.

Pada pasien gagal ginjal dengan terapi continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD), peritonitis adalah salah-satu risiko serius yang harus diwaspadai. Risiko kejadian peritonitis pada pasien ini relatif lebih tinggi karena adanya aktivitas CAPD yang menggunakan selang masuk dan keluar cairan dialisis lewat bukaan pada perut, atau yang biasa disebut saluran kateter.

Ahli Ginjal dan Hipertensi RSCM dr. Ni Made Hustrini, mengatakan risiko infeksi peritoneum bisa bermula dari infeksi pada bagian exit-site kateter, bagian selang di yang tertanam di dalam kulit, hingga infeksi di dekat membran peritoneum.

Infeksi jenis terakhir inilah yang paling mengkhawatirkan. Keadaan itu akan menyebabkan kemampuan peritoneum dalam menyaring racun terganggu. Dampaknya, manfaat prosedur CAPD pun berkurang pada pasien gagal ginjal.

“Peritonitis itu penyebab utamanya adalah membran failure. Artinya apa? Jadi peritonitis itu dia akan menyebabkan reaksi peradangan dan itu bisa menyebabkan kemampuan menyaring racun terganggu,” ungkap dr. Hustrini dalam webinar bertajuk ‘Mitos dan Fakta Seputar Peritonitis pada Pasien CAPD’ yang digelar Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI).

Sebagaimana diketahui, pasien gagal ginjal dengan terapi CAPD setiap harinya menjalani prosedur penggantian cairan dialisis di dalam perut, lewat saluran kateter. Cairan yang diendapkan di dalam perut sekitar 3-5 jam dikeluarkan, lalu diganti dengan cairan dialisis yang baru.

Jika si pasien mengalami peritonitis, maka akan muncul tanda berupa cairan dialisis yang dikeluarkan terlihat keruh. Tanda itu biasanya disertai dengan keluhan nyeri perut hingga demam. Beberapa pasien juga mengalami diare, mual dan muntah, bahkan menggigil.

Hustrini mengatakan, jika gejala dan tanda di atas muncul, maka perlu dilakukan pemeriksaan medis. Dokter biasanya akan memeriksa kultur cairan dialisat si pasien. jika pada cairan itu ditemukan konsentrasi sel darah putih yang tinggi, serta adanya bakteri, maka dapat disimpulkan pasien mengalami peritonitis.

“Kalau misalnya kita dapatkan dalam cairan sel darah putihnya lebih 100 (WBC>LPB) dengan PMN >50 persen (neutrofil). Jadi kalau keruh dan ada hasil analisis seperti ini, itu sudah peritonitis,” ucapnya.

Ada banyak faktor risiko peritonitis pada pasien gagal ginjal dengan terapi CAPD. Pertama, karena terjadinya kontaminasi selama proses penggantian cairan dialisis, sehingga bakteri masuk ke kateter. Hal lainnya yaitu karena kebersihan exit-site atau bagian luar kateter kurang terjaga atau tidak memakai antibiotik, prosedur CAPD kurang bersih (tidak mencuci tangan, tak memakai masker), cedera, pendarahan saluran cerna, hingga prosedur pencabutan gigi bisa menyebabkan peritonitis.

Penyebab lainnya, yaitu yang bersumber pada masalah turunan pada pasien CAPD, seperti rendahnya kadar kalium dalam tubuh atau hipokalemia yang membantu menjaga keseimbangan sel darah. Selain itu, usus buntu atau buang air besar yang tidak teratur juga akan meningkatkan risiko terjadinya peritonitis.

“Jadi bakteri ini bisa lompat dari mana saja, bisa dari usus, darah, atau bisa juga dari exit site tadi,” kata dr. Hustrini.

Pengobatan Peritonitis

Hustrini memaparkan, peritonitis adalah salah-satu masalah serius dan membahayakan bagi pasien CAPD. Angka kematian akibat peritonitis pada pasien CAPD mencapai 15 persen.

Meski begitu, ia menekankan bahwa tidak selalu prosedur CAPD berujung pada terjadinya peritonitis. Dan tidak berarti pula CAPD pasti terkena peritonitis. Risiko peritonitis bisa diantisipasi oleh pasien dengan menjaga kebersihan, dan menerapkan disiplin prosedur dan kebersihan yang baik dalam setiap aktivitas CAPD untuk mencegah terjadinya kontaminasi.

Di samping itu, peritonitis masih bisa ditangani dengan pengobatan berupa pemberian antibiotik lewat cairan dialisis, pembersihan peritoneum lewat prosedur pembilasan menggunakan cairan dialisis secara intensif, serta terapi penanganan komplikasi berdasarkan jenis bakteri penyebab infeksi.

Perlu dicatat, pengobatan peritonitis sebaiknya dilakukan segera saat pasien mulai merasakan gejala. Pengobatan yang cepat dapat menghambat membran peritoneum rusak lebih parah, sehingga masih mungkin untuk pulih kembali. Peritonitis yang dapat diobati segera biasanya memungkinkan pasien untuk tetap melanjutkan prosedur CAPD sebagai pilihan terapi pengganti ginjal.

Namun, bila peritonitis sudah terlalu parah dan tak berhasil diobati, maka pilihan terakhir yaitu pengangkatan saluran kateter dari perut pasien. Hal ini adalah pilihan terakhir, yang membuat pasien tidak bisa melanjutkan CAPD, melainkan harus berpindah ke terapi hemodialisis.

“Kalau tidak kita cabut dan kita harus mempertahankan fungsi membran peritoneum, ia akan memperparah peradangan. Ini bisa menyebabkan kegagalan dialisis,” pungkasnya. (Ads)

Leave a Reply