Pasien Ginjal di Inggris Uji Coba Konsumsi Obat Cacing untuk Lindungi dari Serangan Covid-19

KPCDI – Pasien ginjal kronik di Bristol, Inggris, melakukan uji klinis apakah obat niclosamide yang biasa digunakan untuk mengobati cacing pita bisa membantu para pasien dari serangan virus Sars-CoV-2. Seperti diketahui, para pasien ginjal kronik adalah populasi yang cukup rentan jika terkena covid-19. 

Uji coba ini sudah dilakukan di Rumah Sakit Addenbrooke di Cambridge pada Februari lalu dan telah disebarkan di seluruh rumah sakit di Inggris. Hal ini juga dijalankan oleh North Bristol NHS Trust. 

Jika uji coba ini mendapatkan hasil bagus, maka terobosan ini bisa membuka akses baru pengobatan bagi pasien ginjal dalam upaya mencegah atau mengurangi dampak yang ditimbulkan dari covid-19 pada orang yang menjalani cuci darah, pasien transplantasi ginjal, dan mereka yang terkena penyakit autoimun. 

Adapun perawatan pada uji coba ini akan berlangsung hingga sembilan bulan ke depan.  Dokter ginjal dan ketua pengawas di Kidney Research UK, Professor Jeremy Hughes, mengatakan pada kondisi saat ini semua pihak harus melakukan segala cara untuk bisa melindungi pasien ginjal yang beresiko serius jika terpapar covid-19. 

“Sayangnya, data yang dikumpulkan sebelum peluncuran vaksin dimulai menunjukkan satu dari lima pasien ginjal yang menjalani cuci darah di rumah sakit atau yang menjalani transplantasi ginjal dan dites positif terkena virus meninggal dalam waktu empat minggu,” katanya sebagaimana dikutip dari Bristolpost.co.uk.

Selain itu, bagi para pasien dengan transplantasi ginjal mereka juga tetap harus mengkonsumsi obat imunosupresan–meskipun ini membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi. Di Inggris saja, sekitar 64.000 orang menerima perawatan dialisis atau telah menjalani transplantasi ginjal.

“Pasien ginjal harus mendapatkan vaksin, segera setelah mereka ditawarkan. Kami berharap uji coba ini akan menambah lapisan perlindungan ekstra bagi pasien ginjal di masa depan. Itu bahkan bisa mengungkapkan cara untuk mencegah covid-19 pada orang rentan lainnya,” ujarnya. 

Lebih lanjut, Hughes menjelaskan para pasien bisa melakukan uji coba ini meskipun sudah melakukan vaksin. Uji coba ini akan mengidentifikasi apakah niklosamida dapat melindungi orang dari virus, atau dalam kombinasi dengan salah satu vaksin yang tersedia saat ini.

Niclosamide telah diformulasi ulang menjadi semprotan hidung sehingga dapat dikirim langsung ke lapisan rongga hidung, seperti semprotan hayfever. Dalam uji coba, orang akan menghisapnya dua kali sehari dimana pada rongga hidung itu adalah bagian tubuh tempat virus dapat bertahan. 

Pemberian obat ini kemungkinan akan mengurangi orang mengalami efek samping. Biasanya digunakan untuk mengobati cacingan dan diminum sebagai tablet. Kabar baiknya, niclosamide telah menunjukkan harapan yang nyata di laboratorium. Tes awal mengungkapkan niclosamide dapat menghentikan penggandaan SARS-CoV-2 dan memasuki sel-sel saluran udara bagian atas.

Dr. Fergus Caskey, konsultan ginjal di North Bristol NHS Trust, mengatakan pihaknya percaya pengujian niclosamide sangat penting bagi orang yang mengalami imunosupresi dan memiliki penyakit ginjal, karena respon imun mereka terhadap vaksin terkadang kurang efektif. 

“Meskipun vaksin dapat menawarkan tingkat perlindungan, niclosamide dapat memberikan perlindungan lebih lanjut terhadap covid-19 yang tidak bergantung pada sistem kekebalan yang meningkatkan respons. Jika berhasil, uji coba inovatif kami dapat berarti bahwa pengobatan tersedia untuk pasien ginjal secara lebih luas dalam beberapa bulan,” ujarnya.

Uji coba ini merekrut setidaknya 1.500 pasien ginjal di seluruh Inggris, yang diacak untuk menerima obat plasebo (atau tiruan), atau UNI911 (niclosamida) sebagai semprotan hidung. Keduanya disediakan oleh produsen terapi UNION. (ATR)

Leave a Reply