Bagaimana Hubungan Penyakit Ginjal dan Jantung?
KPCDI – Penyakit ginjal kronik memang menjadi momok paling menakutkan di dunia. Musababnya penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi kardiovaskular salah satunya adalah masalah pada jantung. Hampir 70% pasien ginjal kronik juga dipastikan akan mengalami masalah pada jantungnya yang tentu saja akan berakibat fatal.
Ahli Penyakit Dalam Ginjal dan Hipetensi DR. dr. Atma Gunawan, Sp.PD-KGH menjelaskan bahwa kematian karena kardiovaskular 12-30 kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Kerusakan pada jantung berkaitan erat karena adanya masalah pada ginjal itu sendiri.
Menurutnya, penyakit jantung yang ada pada pasien hemodialisis 80% akan mengalami masalah jantung koroner, gagal jantung, dan gangguan pada irama jantung. Catatan di atas menunjukkan ada kaitan erat pada pasien ginjal kronik akan mengalami kelainan pada jantungnya.
Sebagaimana diketahui turunnya fungsi ginjal jelas akan berpengaruh pada proses pembuangan racun dan cairan di dalam tubuh. Akibatnya badan akan menjadi bengkak dan bisa menyebabkan gagal ginjal. Untuk itu para pasien ginjal kronik harus menjalani proses hemodialisis atau cuci darah untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya,
Akan tetapi menurut dr. Atma ketidakcukupan pada proses cuci darah juga akan berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien. Menurutnya cuci darah di bawah 12 jam per minggu akan meningkatkan angka kematian. Cuci darah yang ideal adalah 12 sampai 18 jam per minggu dan menurut beberapa penelitian akan meningkatkan harapan hidup lebih baik.
“Semakin lama menjalani hemodialisis akan semakin banyak racun yang keluar. Hemodialisis yang baik 3 kali seminggu satu sesi 8 jam. 96% pasien yang menjalani proses itu pada bulan kedua setelah cuci darah sudah tidak lagi mengkonsumsi obat hipertensi,” kata dr. Atma dalam webinar yang diselenggarakan Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) bekerjasama dengan Baxter, Minggu (14/11).
Lebih lanjut, menurut dr. Atma jika racun dan cairan yang ada dalam tubuh tidak dikeluarkan maka akan berdampak buruk dimana tubuh akan mengalami kondisi kelebihan cairan. Akibatnya badan akan menjadi bengkak dan yang paling ekstrem adalah akan terjadi bengkak pada bagian paru-paru.
“Itulah kenapa ada penelitian kematian karena kardiovaskular antara pengambilan cairan yang diambil atau kurang. Kematian meningkat apabila ultrafiltrasi atau pengambilan cairan pada saat hemodialisis melebihi 10 mL/kgBB/Jam. Kalau melebihi ini akan menyebabkan penyakit jantung meningkat,” imbuhnya.
Selain itu, pasien ginjal kronik juga harus menjaga kadar tensi darah. Bukan rahasia umum bahwa pasien ginjal kronik akan memiliki masalah hipertensi. Salah satu cara mencegahnya adalah berat badan harus dalam kondisi ideal. Jika berat badan over maka akan sangat sulit mengendalikan tekanan darah.
“Dan jantung juga akan membesar semakin banyak cairan semakin besar jantungnya,” ujarnya.
Atas dasar itu dr. Atma meminta para pasien untuk selalu mengukur tekanan darahnya setiap hari pada pagi dan sore hari. Pada saat pengambilan tensi ukurlah sebanyak tiga kali untuk mendapatkan data yang akurat. Nantinya angka tersebut dibawa dan diserahkan kepada petugas medis pada saat melakukan proses cuci darah untuk melihat kebutuhan yang harus dilakukan.
“Untuk mengatasi hipertensi harus mencapai berat badan kering maka tensi menjadi normal. Berdasarkan penelitian, meningkatkan lama HD 15 jam menjadi 24 jam per minggu menurunkan tekanan darah,” ujarnya.
Beberapa penelitian menjelaskan target tekanan darah yang baik adalah pada saat Predialysis adalah di bawah 140/90 dan pada saat Postdialysis adalah 130/80. (ATR)