Awas! Risiko Kehamilan pada Pasien Ginjal Kronik
KPCDI – Memiliki keturunan merupakan dambaan mayoritas seluruh pasangan. Sayangnya, bagi para perempuan pengidap penyakit ginjal kronik (PGK), masalah kehamilan harus menjadi perhatian khusus agar pada saat prosesnya tidak menimbulkan masalah atau kendala.
Ahli Penyakit Dalam, dr. Donnie Lumban Gaol, Sp-PD-KGH, menjelaskan pasien perempuan yang ingin hamil tentunya tidak dilarang. Akan tetapi dibutuhkan serangkaian pemeriksaan khusus karena hamil pada perempuan pengidap penyakit ginjal memiliki konsekuensi medis yang cukup serius.
Penyebabnya, struktur dan fungsi ginjal yang sudah mengalami kerusakan akan cukup sulit berdaptasi dengan kehamilan layaknya orang normal. Atas dasar itu, hal ini akan menyebabkan risiko komplikasi bagi ibu dan anak yang sedang dikandung.
“Ada risiko gangguan emergency pada kehamilan itu sangat tinggi sekali,” kata dr. Donnie dalam webinar yang diselenggarakan oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI).
Lebih lanjut komplikasi yang biasanya terjadi pada ibu hamil ialah terjadi risiko preeklamsia atau peningkatan tekanan darah dan kelebihan protein dalam urine yang terjadi setelah usia kehamilan lebih dari 20 minggu. Sebagaimana diketahui tingginya tekanan darah bagi pasien ginjal kronik dapat menyebabkan hal buruk pada pasien.
Tidak hanya pada ibu, efek buruk juga bisa terjadi pada janin yang sedang dikandung. Dimana janin tidak akan tumbuh dengan maksimal atau kecil masa kehamilan (KMK). Selain itu risiko lahir prematur pada PGK juga sangat rentan terjadi. Tentu hal ini akan berpengaruh terhadap kesehatan bayi itu sendiri.
Masalah selanjutnya ialah tingginya biaya yang harus dikeluarkan. Menurut dr. Donnie, pasien ginjal yag sedang hamil harus melakukan terapi cuci darah setiap hari agar racunnya di dalam tubuh tidak lebih dari nilai yang seharusnya. Jika ada kendala dalam pembiayaan maka pasien harus berkonsultasi dengan BPJS Kesehatan untuk mendapatkan layanan gratis.
“Dan itu akan mengalami konsekuensi sendiri karena harus setiap hari berkunjung ke rumah sakit. Jadi hal seperti ini bukan menjadi halangan tetapi harus dibicarakan dulu risikonya dan manfaatnya karena kehamilan sendiri adalah impian setiap wanita tapi kalau membahayakan diri sendiri, kami akan sarankan tidak,” tutupnya. (ATR)